Minggu, 24 Oktober 2010

Makna Bismillah

Makna Amalan Sufi (Basmallah)

Telah menjadi semacam keharusan pada setiap penulisan materi keagamaan untuk mengemukakan pembahasan kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm (Basmallah) pada setiap Muqaddimah. Di sini makna Basmallah akan dibahas sebagai salah satu bagian pembahasan ilmu tasawuf.

Akan tetapi sebelum sampai kepada pembahasan kata demi kata dari makna Basmallah, karena kitab ini menguraikan sekitar ilmu tasawuf, maka terlebih dahulu akan dijelaskan pengertian tasawuf secara singkat.

Ilmu Tasawuf adalah ilmu yang membahas secara karakteristik sifat dan sikap manusia baik yang terpuji maupun yang tercela. Di sini terkandung maksud agar manusia mampu membersihkan hati dan jiwanya sebagai tujuan utama pengamalan ilmu tasawuf dan pintu gerbang memasuki alam shufiyah. Dengan cara ini akan mudah bagi manusia menghiasi jiwanya dengan sifat-sifat yang mulia ber-taqarrub dan ber-musyahadah dengan Allah SWT.

Hukum mempelajari ilmu tasawuf, melihat peranannya bagi jiwa manusia, adalah wajib 'ain bagi setiap mukallaf. Sebab apabila mempelajari semua hal yang akan memperbaiki dan memperbagus lahiriyah menjadi wajib, maka demikian juga halnya mempelajari semua ilmu yang akan memperbaiki dan memperbagus batiniyah manusia.

Karena fungsi ilmu tasawuf adalah untuk mensucikan batin agar dalam ber-musyahadah kepada Allah semakin kuat, maka kedudukan ilmu tasawuf diantara ajaran Islam merupakan induk dari semua ilmu. Hubungan tasawuf dengan aspek batin manusia, adalah seperti hubungan Fiqh dengan aspek lahiriyah manusia. Para ulama penegak pilar-pilar yang menjadi sandaran ilmu tasawuf telah menciptakan istilah-istilah untuk memudahkan jalan bagi mereka yang ingin menapak ilmu tasawuf yang sesuai dengan kedudukannya sebagai pembersih dan pensuci hati dan jiwa.

Sampailah kita pada uraian tentang makna Basmallah. Sunnah Nabi Muhammad SAW memerintahkan agar setiap muslim sebelum memulai suatu perbuatan hendaklah didahului dengan mengucapkan kalimat Bismillâhirrahmânirrahîm. Sebab ucapan itu akan memberi keberkatan ketika bekerja dan mendapatkan rahmat Allah.

Ilmu tasawuf dengan rinci menguraikan makna Basmallah dari segi bahasa sebagai berikut:

Lafal bermakna (kemegahan Allah).
Lafal bermakna (keluhuran Allah).
Lafal bermakna (kemuliaan Allah).

Ulama tasawuf lainnya memberi makna:

Lafal bermakna (tangisan orang yang bertobat).

Lafal bermakna (lupanya orang-orang yang lalai).
Lafal bermakna (ampunan Allah bagi orang-orang berdosa).
Lafal bermakna (orang-orang yang suci).
Lafal bermakna (orang-orang yang menepati janji).
Lafal bermakna (orang-orang yang keras hati).

Dikatakan juga oleh para sufi bahwa Allah SWT menyimpan semua ilmu pada huruf Ba ( ) dalam ungkapan yang berbunyi BÎ KÂNA WA MÂ KÂNA ( ) BÎ YAKÛNU WA MÂ YAKÛNU ( ) artinya:

"Hanya dengan izin-Ku (Allah) jua segala sesuatu yang telah ada itu dapat terwujud, dan hanya dengan izin Allah sajalah semua yang akan ada dapat terwujud."

Sehingga dengan demikian lebih jelaslah, bahwa wujud alam dan seluruh isinya hanyalah karena izin Allah dan hakikat segala perwujudan ini adalah atas nama Allah belaka.

Syarat-syarat diterimanya doa seorang hamba diantaranya adalah makanan yang halal, perut dan anggota tubuh lainnya harus bebas dari makanan dan minuman yang haram.

Mengisi perut dengan makanan yang halal, yang kelak akan membentuk kebersihan seluruh jasad, mempercepat diterimanya doa dan permohonan kepada Allah SWT. Doa seperti dijelaskan, merupakan pembuka pintu langit, sedang kunci-kuncinya adalah makanan yang halal. Syarat lainnya adalah permohonan dengan hati yang ikhlas dan jiwa yang khusu'.

Allah berfirman: "Mohonlah kepada Allah dengan penuh keikhlasan....."

Allah SWT pernah berfirman kepada Nabi Musa AS: "Wahai Musa, jika engkau berkeinginan agar doamu terkabul, maka hindarilah makanan yang masuk ke dalam perutmu dari makanan yang haram dan jagalah anggota tubuhmu dari perbuatan dosa."

Lafal ar-Rahmân ( ) adalah rahmat Allah yang sangat banyak bagi semua makhluk. Sesuai dengan rahmat Allah itu, maka hendaklah manusia menaruh rasa belas kasih kepada sesama makhluk.

Ka'bul Akhbar mengatakan bahwa di dalam Kitab Injil tertera kalimat yang berbunyi: "Wahai anak Adam, karena Allah telah mengasihimu, maka kasihi pula sesamamu. Bagaimana kalian akan mengharapkan rahmat Allah, apabila kalian tidak menaruh rasa kasih kepada sesama hamba Allah?"

Lafal ar-Rahîm ( ) adalah rahmat yang banyak dan khusus serta terinci dari Allah kepada hamba-hamba-Nya jika ia memohon. Bahkan Allah akan murka kepada hamba yang tidak berdoa kepada-Nya.

Dalam suatu riwayat Nabi Muhammad SAW bersabda:

"Allah SWT sangat murka kepada orang yang enggan berdoa." (HR. Bukhari).

Dikatakan juga oleh seorang Sufi: Kami tidak melihat sesuatu kecuali kami melihat Allah berada padanya (di sisinya)."

Hikmah mengawali Basmallah dengan huruf Ba ( ) bukan huruf lain, lalu huruf alif ( ) ditiadakan pada lafal ismu ( ) diganti oleh huruf Ba ( ), sebab huruf Ba termasuk huruf syafawi yang memiliki sifat Infitah ( ) = terbuka. Diucapkan dengan bibir terbuka tidak sama dengan huruf-huruf lainnya.

Kaitannya ialah, karena huruf ba ( ) pertama-tama keluar dari mulut manusia di awal penciptaannya, seperti firman Allah ALASTU BIRABBIKUM ( ) artinya: "Bukankah Aku Tuhan kalian," kemudian dijawab dengan kalimat BALÂ ( ) artinya: "Benar Engkau Tuhan kami." Kalimat tersebut dimulai dengan huruf Ba.

Bismillâhirrahmânirrahîm huruf pertamanya adalah Ba ( ), terbaca kasrah ( ), karena di dalam ucapan itu terdapat sesuatu yamg rendah dan sulit, yang bermakna

"Aku menemukan bahwa kemuliaan yang sesungguhnya hanyalah pada Allah SWT."

Sebagaimana bunyi ungkapan:

"Saya bersama dengan orang-orang yang bersedih hati." Nabi SAW bersabda seperti bunyi ungkapan di atas: "Barangsiapa yang suka merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya."

Huruf alif dalam kalimat Basmallah dihilangkan karena huruf alif ( ) dianggap mengandung makna kesombongan.

Pendapat yang masyur tentang lafal Allâh ( ), karena lafal Allâh ( ), termasuk Ismul zham,( ) yakni nama-nama Allah yang Agung. Dengan isim ini manusia menjadikannya sebagai perantara ketika berdoa agar doanya dikabulkan Allah.

Dijelaskan bahwa setiap doa dan permohonan harus dengan adab dan sejumlah syarat. Tanpa dipenuhinya syarat-syarat dan adab ini maka doa sulit dikabulkan. Rasulullah SAW bersabda :

"Pada suatu malam ketika aku dimi'rajkan ke langit, maka diperlihatkan kepadaku keadaan-keadaan surga. Ada surga yang terdapat empat sungai di dalamnya. Satu sungai mengalirkan air tawar, ada sungai yang mengalirkan air susu, ada yang mengalirkan arak, dan satu lagi mengalirkan madu. Aku bertanya kepada malaikat fibril, dimana sumber air itu dan ke arah mana mengalirnya. Jibril menjawab, "Sungai-sungai itu mengalir ke sebuah telaga yang bernama al-Kautsar. Akan tetapi saya tidak mengetahui di mana letak sumbernya. Mohonlah kepada Allah agar engkau diberitahu sumber keempat sungai itu." Aku pun memohon kepada Allah, sehingga datang sesosok malaikat. Sambil mengucapkan salam malaikat itu berkata:

"Wahai Muhammad pejamkan kedua matamu". Setelah itu malaikat tersebut menyuruhku membuka mata kembali. Di saat aku membuka mataku, aku telah berada di samping sebuah pohon, dan di situ aku melihat sebuah Kubah yang terbuat dari mutiara burung-burung yang sedang bertengger di atas bukit-bukit. Adapun sumber air sungai yang empat itu berada di bawah Kubah. Ketika aku akan kembali pulang, malaikat itu memanggil seraya berkata: "Mengapa engkau tidak masuk ke dalam Kubah itu?" Aku menjawab, "bagaimana aku bisa masuk sedangkan pintunya masih terkunci. Malaikatitu berkata: "Kuncinya adalah membaca Bismilâhirrahmânirrahîm." Akupun mendekati pintu itu seraya mengucapkan Bismillâhirrahmânirrahîm. Maka terbukalah pintu itu sehingga aku masuk ke dalamnya. Maka tahulah aku sumber empat sungai tersebut yang airnya mengalir berasal dari empat sudut Kubah itu."

Sungai yang mengalirkan air tawar berasal dari huruf MIM ( ) dari lafal BISMI ( ). Sumber air susu, berasal dari HA ( ) dari lafal Allah. Sumber arak, berasal dari huruf MIM ( ) dari lafal Rahman. Sedangkan sumber madu berasal dari huruf MIM ( ), lafal Rahim dengan demikian tahulah aku bahwa sumber empat sungai itu berasal dari lafal BASMALLAH."

Allah SWT berfirman dalam salah satu Hadits Qudsi:

"Barangsiapa mengingat Aku dengan menyebut nama-nama-Ku (termasuk Asmaul Husna), dengan hati yang ikhlas, tidak diperlihatkan kepada orang lain, dimulai dengan mengucapkan Bismillâhirrahmânirrahîm, maka ia kan menikmati minuman dari air sungai-sungai itu." Diterangkan pula dalam hadits lain: "Allah SWT tidak menolak doa yang diawali dengan Bismillâhirrahmânirrahîm."

Wallahu Warasuluhu 'alam...

http://www.cybermq.com/index.php?pustaka/detail/15/1/pustaka-242.html

Senin, 06 September 2010

Golongan Yang Selamat Dalam Islam: Golongan Mana?

GOLONGAN YANG SELAMAT DALAM AL-QUR’AN

Orang sekarang ini dengan mudah mengklaim golongan dan jamaahnya sebagai golongan dan jamaah yang selamat. Selain pengikut jamaahnya adalah sesat dan tidak selamat. Karena hal ini, banyak orang yang “kebingungan dalam beragama”, dan sangat mungkin akan timbul pertanyaan dalam diri kita: “Siapakah seseungguhnya golongan yang selamat itu?”

Dalam Surat al Fathihah, Allah Ta’ala menjelaskan bahwa manusia terbagi atas tiga golongan, yaitu:

    1. Golongan yang berada di Shiraath al Mustaqiim.
    2. Golongan yang Dimurkai.
    3. Golongan yang Sesat.

Mengacu kepada ayat tersebut sesungguhnya sangat jelas sekali, bahwa golongan yang selamat adalah mereka yang berada di Shiraath al Mustaqiim. Mereka adalah orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah Ta’ala, yang dijelaskan dalam (QS 4:69), bahwa:

“Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: An-Nabiyyin, Ash-Shiddiiqiin, Asy-Syuhadaa (QS 57:19) dan Ash-Shalihiin (QS 19:9). Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)”

Tapi pertanyaannya, di masa ini, kelompok yang manakah yang sedang berada di atas Shirat Al-Mustaqiim itu? Kita akan membahas ini di akhir artikel.


SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Banyak orang menganggap bahwa Shiraath Al-Mustaqiim ini ‘abstrak’ dan hanya akan dapat ditemui di akhirat. Dalam Al Qur’an Shiraath Al Mustaqiim dijelaskan sebagai:

1. Ad-Diin (Agama) yang tegak

Ketika seorang beragama, dan dalam pelaksanaan agamanya ia belum berada di atas Shirath Al Mustaqiim, sesungguhnya agamanya itu belum tegak (hakiki).

“Dan apabila ia telah berada di atas Shirath Al Mustaqiim, maka sesungguhnya agama dalam dirinya telah tegak.” (QS 6:161)

Shiraath akar katanya berarti tertelan (menurut Quraish Shihaab), Al Mustaqiim berarti adalah orang yang berada dalam keadaan istiqamah (mantap/konsisten). Artinya, orang yang berada di Shiraath Al Mustaqiim, adalah orang yang telah tertelan dalam keistiqamahan kepada jalan Allah. Tidak akan lagi bergeser kepada kekufuran.

Orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim dijaga oleh Allah Ta’ala dari mengarah kepada kesalahan, dimana penjagaannya bagaikan dipegangnya ubun-ubun binatang melata. (lihat Q.S 11:56). Dan sesungguhnya Allah Ta’ala yang menjaga Shiraath Al Mustaqiim (lihat Q.S 15:41).

2. Jalan Orang yang Diberi Nikmat

Karena orang-orang yang berada di atas Shirath Al Mustaqiim, dijaga oleh Allah Ta’ala dari kesalahan, maka mereka inilah orang-orang yang diberi nikmat. (Q.S 1:7)

Untuk itu nikmat disini bukanlah sekedar nimat kesehatan, nikmat harta benda, dsb. Tetapi jauh lebih besar dari itu, adalah nikmat dijaga oleh Allah Ta’ala dari segala kesalahan dan hidup bersama Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala pun berada di atas Shiraath Al Mustaqiim (Q.S 11:56).

3. ‘Jalan’ Allah

Orang yang selamat hanyalah mereka yang berada di atas Shiraath al Mustaqiim. Shiraath al Mustaqiim inilah sesungguhnya merupakan ‘jalan’ Allah.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini Shiraath al Mustaqiim’. Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya. Selanjutnya beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, ‘Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh Allah kepadamu agar kamu bertakwa.’(QS 6:153)” (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i)

MENUJU SHIRATH AL-MUSTAQIIM

Untuk menuju Shiraath al Mustaqiim, Allah Ta’ala telah dengan jelas menginformasikan kepada kita tentang prosesnya di al Qur’an. Media Allah Ta’ala membimbing seorang manusia menuju Shiraath Al Mustaqiim adalah dengan petunjuk-Nya.

Petunjuk Allah Ta’ala ada 2 (dua) jenis: (1) Petunjuk Umum dan (2) Petunjuk Khusus.

Petunjuk Umum, adalah Al Qur’an yang merupakan petunjuk untuk seluruh manusia. Sedangkan Petunjuk Khusus, adalah petunjuk yang Allah Ta’ala turunkan kepada manusia secara individual, orang perseorangan langsung ke dalam qalbunya.

Petunjuk khusus ini akan Allah Ta’ala turunkan apabila seorang manusia menjalankan substansi nilai-nilai yang dipandu dalam Petunjuk Umum. Tahapan-tahapan ini dijelaskan dalam ayat berikut:

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke Subulussalam, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke Shiraath al Mustaqiim.“ (Q.S. 5:16)

Petunjuk langsung ke qalb

Sayangnya kebanyakan manusia –karena ia tidak merasakannya- memungkiri bahwa sesungguhnya manusia dapat menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala melalui qalbunya. Mereka menganggap bahwa yang bisa menerima petunjuk langsung dari Allah Ta’ala hanyalah para Nabi, dan hal itu telah tertutup dengan khatamnya para Nabi. Padahal ayat-ayatnya sudah demikian jelas di al Qur’an.

“Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk langsung kepada qalbunya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q. S. 64:11)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal shaleh, mereka diberi petunjuk oleh Rabb mereka karena keimanannya.” (Q.S. 10:9)

Dan sesungguhnya apabila kita tidak termasuk dalam golongan yang mendapat petunjuk Allah kepada Shiraath al Mustaqiim, niscaya kita hanya akan termasuk ke dalam golongan yang sesat.

“Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat”. (Q.S. 6:77)

Untuk terpimpin kepada Shiraath Al Mustaqiim, syaratnya adalah mampu mendapat petunjuk langsung dari Allah ta’ala, dan syarat untuk mendapat petunjuk langsung itu adalah iman. Namun iman yang bagaimana? Apakah iman yang sekedar definisi-definisi dan dalil-dalil? Jawabannya adalah “Bukan!”.

Iman yang menjadi syarat seorang mendapat petunjuk dari Allah Ta’ala, adalah iman yang berupa cahaya, yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada manusia sebagai rahmat (pertolongan)-Nya untuk mensucikan qalbunya.

“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman).” (Q.S. 2:257)

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kami. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. 57:28)

Dan bagaimana sesungguhnya untuk mendapatkan cahaya iman tersebut? Allah berkata, syaratnya adalah Islam.

“Orang-orang Arab (badui) itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah (kepada mereka):” Kamu belum beriman, tetapi katakanlah ‘kami islam’, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbumu.” (Q.S. 49:14)

Dari ayat di atas, dapat kita cermati bahwa tampaknya mereka yang ber-islam tidak serta merta langsung menjadi beriman. Mereka yang Islam bisa jadi belum beriman, karena Islam dan Iman merupakan dua tahap yang berkelanjutan/sekuensial.

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah qalbunya (untuk) ber-Islam lalu ia mendapat cahaya dari Rabbnya (sama dengan orang yang membatu hatinya).” (QS. 39:22)

Namun Islam, bukanlah sekedar “formal Islam”- nya, tetapi lebih dalam dari itu adalah menjalankan substansinya, yaitu: penyerahan diri kepada Allah. (Catatan: Islam secara dasar kata berarti berserah diri). Dan inilah sesungguuhnya substansi dasar ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam al Qur’an.

PESAN UTAMA AJARAN ILAHIYYAH

Allah Ta’ala mengutus setiap utusannya, sejak zaman Adam as sampai Nabi Muhammad SAW, adalah untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Ta’ala. Lihatlah ayat-ayat Al Qur’an berikut ini:

Nuh A.S

“Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah sedikitpun daripadamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku (Nuh A.S) disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)”. (Q.S. 10:72).

Ibrahim A.S

“Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik”. (Q.S. 3:67).

Musa A.S

“Berkata Musa: “Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri“. (Q.S. 10:84).

Ya’qub A.S

“Dan Ya’qub berkata:”Hai anak-anakku janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang yang berlain-lain; namun demikian aku tiada dapat melepaskan kamu barang sedikitpun daripada (takdir) Allah. Keputusan menetapkan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendaklah kepada-Nya saja orang-orang yang bertawakal berserah diri“. (Q.S. 12:67).

Sulaiman A.S

“Berkatalah Balqis:”Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam”. (Q.S. 27:44).

Isa A.S

“Aku (Isa A.S) tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku yaitu:”Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu”, dan adalah aku menjadi saksi (syahiidan) terhadap mereka”. (Q.S.5 :117).

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka berkatalah dia:”Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk Allah” Para hawariyyin menjawab:”Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (Q.S. 3:52).

Muhammad SAW

“Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam, tiada sekutu baginya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku (Muhammad SAW)adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:162-163)

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 6:14)

Penyerahan diri kepada Allah dengan sepenuh hati dimana seluruh aspek kehidupan diperuntukkan untuk Allah (yang mempunyai 99 asma) semata, merupakan pesan utama ajaran ilahiyah. Sehingga disampaikan oleh para utusan- Nya setiap zaman.

Berserah Diri dengan tulus ikhlas dalam setiap aspek adalah kondisi dimana seseorang bersedia diatur sepenuhnya oleh Allah (menjadi budak Allah Ta’ala), tidak mengatur dirinya sendiri dengan hawa nafsu dan syahwatnya. Ajaran (Ad- Diin) yang dibawa oleh Muhammad SAW adalah Ad-Diin Berserah Diri kepada Allah Ta’ala untuk itulah dinamakan Ad-Diin Al Islam. Ikhlas menyerahkan diri kepada Allah dan muhsin, itulah Ad-Diin yang paling baik.

“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (Q.S. 4:125)

Berserah Diri kepada Allah Ta’ala dan muhsin, maka ia telah berpegang teguh kepada Allah Ta’ala.

“Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh.Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (Q.S. 31:22)

Keberserahan diri kepada Allah Ta’ala ditopang oleh empat sendi utama, yaitu: Sabar, Syukur, Tawakal dan Ikhlas. Bagaimana mungkin seorang akan menjadi seorang muslim yang utuh, apabila qalbunya tiada pernah bersabar atas segala masalah hidupnya? Selalu mengeluh dan tiada pernah bersyukur terhadap segala hal yang Allah berikan kepadanya?

GOLONGAN YANG SELAMAT MENURUT HADITS RASULULLAH

Dari Sahabat Abdullah bin Amr bin Ash r.a :

“Telah bersabda Rasulullah SAW : ” Sungguh-sungguh akan datang atas umatku sebagaimana yang telah datang pada Bani Israil, sebagaimana sepasang sandal yang sama ukurannya, sehingga kalau dulunya pernah ada di kalangan Bani Israil orang yang menzinai ibunya terang-terangan niscaya akan ada diumatku ini yang melakukan demikian. Dan sesungguhnya Bani Israil telah terpecah menjadi 72 golongan dan umatku akan terpecah menjadi 73 golongan. Semua mereka bakal masuk neraka kecuali satu golongan yang selamat. Para shahabat bertanya: “Siapakah mereka yang selamat itu ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: ” yaitu golongan yang mengikuti Aku ada padanya pada hari ini dan yang mengikuti para Sahabatku.”

Hadits ini diriwayatkan lengkap oleh Tirmidzi, diterangkan pula oleh Hakim juz yang pertama, Ibnu Wadhoh, Imam Al-Azurri dalam kitabnya As- Syari’ah, Ibnu Nasr Al-Marwaji dalam kitabnya As- Sunnah Al-Laalikai, Abdul Qahir Al-Baghdadi dalam kitabnya Al-Faruq bainal Firaq) Hadits ini dikatakan oleh Tirmidzi HASAN GHARIB, Hadits ini dihasankan oleh Tirmidzi bukan karena secara sanad shahih, tetapi menghasankan karena Syawahidnya yang banyak. Hadits ini HASAN.

Dari Sahabat Abu Hurairah r.a : “Yahudi telah berpecah menjadi 71 golongan, dan Nasrani telah berpecah menjadi 72 golongan, dan akan berpecah umatku menjadi 73 golongan.” (Abu Daud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Al-Azzuri, Hakim, Ahmad, Abu Ya’la, Ibnu Abi Asim)

Dan Tirmidzi berkata hadits ini HASAN SHAHIH. Hakim berkata SOHIHUN ala Shahih Muslim dan disetujui oleh Ad-Dzahabi.

Dari Sahabat Auf Bin Malik r.a : “Yahudi berpecah menjadi 71 golongan, 1 masuk sorga dan 70 masuk neraka. Dan Nasrani berpecah menjadi 72 golongan, 71 masuk neraka dan 1 masuk sorga, Dan demi yang diri Muhammad ada ditangan-Nya, sesungguhnya umatku sungguh-sungguh akan berpecah menjadi 73 golongan, 1 di sorga dan 72 di neraka; kemudian sahabat bertanya: ‘Ya Rasulullah, siapa mereka yang selalu satu itu yang masuk dalam surga (Wahidatun Fil Jannah)?, dijawab oleh Nabi SAW, yaitu ‘Al-Jama’ah‘” (Ibnu Majah, Ibnu Abi Asim dalam As-Sunnah, Imam Al-Laalikai)

Hadits ini di SHAHIH-kan oleh para ulama.

“Aku wasiatkan padamu agar engkau bertakwa kepada Allah, patuh dan ta’at, sekalipun yang memerintahmu seorang budak Habsyi. Sebab barangsiapa hidup (lama) di antara kamu tentu akan menyaksikan perselisihan yang banyak. Karena itu berpengang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin yang (mereka itu) mendapat petunjuk. Pegang teguhlah ia sekuat-kuatnya. Dan hati-hatilah terhadap setiap perkara yang diada-adakan, karena semua perkara yang diada-adakan itu adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat (dan setiap yang sesat adalah tempatnya di dalam Neraka).” (H. R. Nasa’i dan At-Tirmidzi, ia berkata hadits ini hasan shahih).

Dalam hadits yang lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini (Islam) akan berpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan, tujuh puluh dua golongan tempatnya di dalam Neraka dan satu golongan di dalam Surga, yaitu Al-Jama’ah.” (HR. Ahmad dan yang lainya. Al-Hafidz menggolongkannya hadits hasan)

Dalam riwayat lain disebutkan,

“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para shahabatku meniti di atasnya.” (HR. Ahmad dan yang lainya. dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219).

Dari keterangan diatas, pola apa yang terlihat? Di masa yahudi, dari 71 golongan, 70 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa berikutnya, Nasrani, dari 72 golongan, 71 tidak selamat dan 1 selamat. Pada masa selanjutnya, dari umat Rasul SAW terbagi menjadi 73 golongan, 72 tidak selamat dan 1 selamat. Lihatlah, betapa di setiap pergantian ajaran kenabian selalu bertambah satu golongan yang tidak selamat, sedangkan yang selamat tetap satu saja.

Golongan yang selamat menurut hadits Rasululah.

Sesungguhnya satu golongan yang selamat sejak dulu Yahudi, Nasrani dan Umat Muhammad SAW adalah sama. Tidak berubah. Merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk Allah langsung ke Qalbu, sehingga terpimpin ke Shiraath Al Mustaqiim (jalan Allah yang lurus).

Kenapa setiap pergantian ajaran Nabi bertambah satu golongan? Karena satu golongan itu adalah golongan yang hanya menjadi merasa bangga dengan formal golongannya, tetapi substansi ajaran agama Ilahi dilupakannya atau tidak dikenalnya.

Satu golongan yang selamat adalah Al Jamaah, merekalah yang Rasulullah SAW dan sahabat berada di atasnya. Secara eksplisit dalam Al Qur’an dikatakan merekalah orang yang berada di atas Shiraath Al Mustaqiim, siapapun ia dan darimana pun asal (nama) jamaahnya.

Yang selamat bukanlah nama sebuah jamaah, apakah tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU, atau apapun namanya. Siapapun orangnya, apakah berasal dari Tasawuf, tarekat A, tarekat B, Syiah, Sunni, Ikhwan al Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafy, Muhammadiyah, NU dan sebagainya. Kalaulah ia mendapat petunjuk langsung dari Allah dan terpimpin ke Shirath Al Mustaqiim, maka dia termasuk dalam Al Jamaah.

Al-Jama’ah

Karakter mereka sejak zaman Adam, Yakub, Musa, Isa, Muhammad adalah sama. Merekalah yang mencintai Allah lebih dari dunia. Merekalah orang-orang yang mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwatnya (bahkan mampu menggembalakan hawa nafsu dan syahwat dirinya dalam ber-’agama’).

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Rabbnya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (Q.S. 79:40-41)

Merekalah orang mati dalam keadaan berserah diri (al muslimuun).

“Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’kub. (Ibrahim berkata): “Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan berserah diri (kepada Allah)”. (Q.S. 2:132)

“Katakanlah: “Kami beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Ya’qub, dan anak-anaknya, dan apa yang diberikan kepada Musa, ‘Isa dan para nabi dari Rabb mereka. Kami tidak membedabedakan seorangpun di antara mereka dan hanya kepada- Nya-lah kami menyerahkan diri“. (Q.S. 3:84)

Dimensi Batin Ibadah Shalat

Dimensi Batin Ibadah Shalat

Oleh Kuswandani Yahdin, Yayasan Paramartha.

Kehidupan mempunyai banyak dimensi, banyak lapis dan fase. Di satu sisi, semuanya dapat berpadu bersama dalam meneruskan interaksi dinamis satu sama lainnya. Kehidupan adalah suatu perpaduan (integrasi) dari kesemuanya. Akan tampak bodoh bila kemudian ada usaha memisah-misahkan dan menganalisis kehidupan sebagaimana para ilmuwan sering melihat sesuatu hanya dalam satu bidang (sudut pandang) mikroskopik, melihat sesuatu hanya dalam satu dimensi saja, yang akan membuat pandangan menjadi timpang dan tidak seimbang. Atau melihat dengan sudut pandang teleskopik, yang juga akan membawa pada generalisasi yang terlalu umum sehingga justru terjadi reduksionisme yang simplistik.

Hidup dengan menggunakan visi teropong maupun mikroskop, beresiko membawa sudut pandangnya menjadi sempit dan tidak seimbang, karena hanya mementingkan satu aspek kehidupan dan kemudian mengabaikan aspek-aspek lainnya. Akibat dari ketidakproporsionalan cara pandang dan ketidakseimbangan ini jelas amat berbahaya: yaitu terbelahnya pribadi dan masyarakat, sebagaimana orang yang hidup dalam satu dimensi saja, atau seraya mengabaikan keutuhan kehidupan.

Sebagai contoh sederhana, misalnya seorang dokter yang hanya melihat dan mengobati penyakit dari gejala fisik tapi sama sekali mengabaikan faktor psikologis pasien. Atau seorang yang semata-mata melihat kepadatan penduduk hanya sebagai angka statistik dan mengabaikan psikologi masyarakat, sehingga diciptakannyalah transmigrasi sekelompok masyarakat berkepribadian keras, dipaksakan untuk hidup dalam wilayah masyarakat yang menjunjung tinggi kesopanan dan tatakrama. Pada ujungnya, dua kelompok masyarakat tadi justru saling membunuh satu sama lain. Di sepanjang zaman, manusia terlihat terbelenggu dalam kebodohan semacam ini, hanya saja dalam skala yang berbeda-beda.

Ada satu hal lain dalam dimensi kehidupan kita ketika seorang manusia tengah mencari apa yang disebut dengan kebahagiaan sejati. Kebahagiaan, ternyata tidak dapat dijamin oleh limpahan harta duniawi ataupun kedudukan di mata manusia. Kebahagiaan yang sangat tidak dapat diukur oleh banyaknya rasa senang. Kebahagiaan sejati yang sebenarnya, bukanlah manusia yang dapat menciptakannya.

Kebahagiaan sejati akan dapat dirasakan ketika Dzat Yang Maha Kuasa pencipta takdir, pencipta kehidupan turun menganugerahkan kepada kita, yang kadangkala –kalau tidak disebut seringkali— hadir tidak lewat keadaan yang kasat mata, namun akan terasakan di dalam diri kita, di dalam batin manusia. Untuk itulah, ketika manusia menyadari ada rasa yang lain dalam dirinya, semestinya dia menyadari bahwa ada dimensi lain dalam dirinya yang disebut sebagai dimensi batiniah seorang manusia, yang tidak seorang pun dapat menyangkalnya. Sebuah dimensi yang seringkali akal manusia tidak mampu mencernanya dengan sempurna, sehingga melahirkan bentuk interpretasi yang beragam pula. Masing-masing menafsirkan sesuai dengan apa yang ada dalam benak mereka.

Maka tidaklah mengherankan apabila Allah sering mengungkapkan sindiran kepada manusia yang tidak mengakui adanya aspek batin dalam diri, yaitu apa yang disebut dengan qalbu nurani, yang letaknya pun bukanlah seperti apa yang digambarkan para ahli kedokteran berupa jantung, tapi berada dalam dimensi yang berbeda. Qalbu yang di dalamnya terletak aspek keimanan. Firmannya,

“Berkata seorang Arab badui ,‘Kami telah beriman.’ Katakanlah, ‘Kamu belum beriman, tapi katakanlah kamu telah tunduk, karena iman itu belum masuk ke dalam qalbu-mu.” (QS Al-Hujurat [49] : 14)

Qalbu juga yang menjadi tempat ujian dimana syetan yang terkutuk akan berjuang menggelincirkan dan menyesatkan manusia ke jalan kemurkaan Allah. Firmannya,

“….Bahkan qalbu mereka telah menjadi keras dan syetan pun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS Al-An’aam [6] : 43)

“Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada qalbu mereka sampai kepada waktu mereka menemui Allah.” (QS at-Taubah [9] : 77)

Berdasarkan beberapa ayat di atas, dapat ditarik pelajarannya bahwa, apabila kita ingin agar Alquran mampu menyentuh qalbu manusia dengan sentuhan yang benar, dimana qalbu bisa memperoleh manfaat dari Alquran, maka kita wajib mengobatinya terlebih dahulu, dengan cara menjadikan qalbu itu beriman dengan sebenar-benarnya. Oleh karena itu –bertolak dari uraian di atas— titik perhatian yang seharusnya selalu menjadi pusat pemikiran dan kerja pendidik sejak awal adalah perbaikan qalbu (ishlah al-qalb). Kegagalan dalam hal ini merupakan indikator dari adanya gejala pembodohan pendidikan, ketidaktekunan murid, atau kesalahan sistemnya.

Untuk itulah Rasulullah selalu memberikan nasihat kepada para umatnya agar selalu berhati-hati dalam menggunakan qalbu-nya.

Demikian pula ketika kita mencoba mengkaji bentuk ibadah yang telah Nabi ajarkan bagi umatnya, ibadah yang memegang peranan yang sangat penting, khususnya sangat berpengaruh benar dalam upaya menumbuhkan keimanan dan ketakwaan seorang umat Muhammad Saw., yaitu ibadah shalat.

Ketika kita hanya mengkaji ibadah ini dari aspek aturan fikih belaka, atau aturan lahiriahnya, maka tidak heran apabila kita menemukan umat Islam merasa sangat berat, apalagi ibadah ini harus dilakukannya sepanjang hidupnya sehari lima kali. Pada era modern ini, kita bahkan banyak menemukan umat sudah tidak lagi merasa bergairah menjalankan ibadah shalat, kalau tidak ingin disebut jarang melengkapi lima waktu tersebut.

Mereka yang cukup rajin pun sudah sering merasa kekeringan dalam pelaksanaan shalat tersebut. Ini disebabkan karena dimensi batinnya telah lama tidak mereka rasakan. Shalat tidak lagi dijadikan sebagai sarana indikator kedekatan mereka dengan Allah. Shalat tidak lagi dikejar karena mereka merasakan tidak banyaknya manfaat yang bisa diperoleh ketika shalat, selain dari sekedar melaksanakan kewajiban saja.

Tapi akan dirasakan berbeda apabila setiap Muslim mencari manfaat apa sebenarnya yang dapat diperoleh ketika mereka menjalankan shalat? Mengapa Allah menurunkan bentuk kewajiban shalat tersebut kepada umat Islam? Apakah shalat itu merupakan kewajiban bagi manusia agar dapat menyembah Tuhannya belaka, tanpa ada faidah bagi penyembahnya itu sendiri? Apabila pertanyaan demi pertanyaan tersebut dapat terjawab, maka umat Islam tentunya akan dapat memaknai setiap gerak hidupnya dengan benar.

Mari kita perhatikan beberapa ungkapan Nabi selaku pembawa risalah kebenaran ini.

Rasulullah bersabda,

“Apabila shalat seseorang tidak mencegahnya dari berbuat keji dan munkar, maka ia tidak mendapat apa pun kecuali semakin bertambah jauh darinya.”

Nabi juga bersabda,

“Banyak orang yang melaksanakan shalat, tetapi yang diperolehnya tiada lain hanyalah letih dan payah, karena melaksanakan shalat itu sendiri.” (H.R. An-Nasa’i).

“Tiada diperoleh seorang hamba dari shalatnya kecuali apa ada dalam pikirannya pada saat melaksanakan shalat.” (HR Abu Dawud dan Nasa’i).

Alangkah beruntungnya ketika seorang hamba memahami makna shalat sebenarnya sebagaimana Rasulullah ungkapkan,

“Ketika ia melaksanakan shalat, seorang hamba tengah bercakap mesra dan akrab dengan Tuhannya.” (HR Bukhari Muslim).

Inilah makna sebenarnya ibadah shalat, ibadah yang mengandung sebuah hubungan batin seorang hamba dengan Sang Pencipta, ibadah yang bernuansa sakral karena keyakinan manusia yang berada dalam dimensi batiniyah dalam mengadakan hubungan khusus dengan zat yang ghaib. Inilah makna ihsan.

Allah mewajibkan shalat kepada setiap umat Muhammad, karena dalam ibadah itu terkandung sebuah makna pengabdian yang tinggi seorang hamba kepada Penciptanya. Dalam ibadah shalat juga, seandainya dilakukan secara ikhlas, tidak karena semata-mata menjalankan beban kewajiban, akan diperoleh limpahan cahaya petunjuk dari Allah yang berfungsi menjernihkan hati nurani atau qalbu setiap hamba Allah yang beribadah secara ikhlas tersebut. Setiap rakaat shalat memiliki makna yang sangat mendalam karena hadirnya proses pensucian jiwa yang tadinya terkotori oleh tindakan dosa kita. Untuk itulah kering atau gersang tidaknya ibadah shalat kita bergantung dari seberapa besar motivasi kita dalam melaksakan ibadah tersebut. Sedangkan seringkali, untuk mendapatkan motivasi, kita membutuhkan ‘bahan bakar’ berupa pemahaman maupun keluasan cakrawala pandang untuk lebih memahami persoalan.

Dalam sisi dimensi batin lainnya, gerakan shalat memiliki makna simbolik yang sangat mendalam. Sejak posisi berdiri, ruku dan sujud merupakan sebuah proses perjalanan manusia dalam rangka mencari kebenaran, mencari pemilik kebenaran, proses pendakian menuju kasih sayang dan kedekatan Allah Azza wa Jalla. Simbol tersebut merupakan langkah yang harus kita tempuh dalam rangka upaya manusia agar dapat menjadikan hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok akan lebih baik dari hari ini.

Posisi berdiri melambangkan posisi akal atau rasio berada di atas qalbu manusia, artinya pada awal kehidupan, kita menempatkan akal kita terlebih dahulu sebelum menggunakan qalbu, atau bahkan tidak menggunakan qalbunya. Kondisi ini pula yang dialami oleh sebagian besar umat Islam sekarang. Mereka begitu mengagungkan akal, aspek lahiriyah dan mengabaikan qalbu dalam memutuskan kebenaran sebuah persoalan.

Bagi seorang hamba yang berharap banyak memperoleh kebenaran, dia tidak akan pernah merasa puas dengan posisi pertama. Dia akan berjuang melangkah pada posisi berikutnya yaitu posisi ruku’, yaitu memposisikan akal sejajar dengan qalbu. Ada hubungan yang seimbang dalam pertimbangan tentang sebuah persoalan, melibatkan qalbu dan akal sejajar, saling membantu dan bekerja sama, saling menyediakan dan menyatukan data ‘bumi’ dan data ‘langit’ untuk diaplikasikan dalam persoalan kehidupannya.

Dan posisi yang terbaik dalam kehidupan manusia beriman adalah posisi sujud, yang disebutkan juga oleh Rasulullah sebagai posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya, yaitu ketika menempatkan qalbu di atas akalnya. Ketika akal atau aspek lahiriyah melihat sebuah persoalan, akal mencernanya dengan maksimal, baru qalbu yang telah hidup karena telah tersucikan dari dosa menjadi hakim, menjadi raja dalam memutuskan langkah berikutnya. Sedangkan pada tahap ini, rasio akan menjadi penasihat terdekat dari Qalbunya, dalam hal penerapan dan pengaplikasian petunjuk Allah ke alam mulk, atau alam fisik ini.

posisi dalam shalat

Nabi bersabda,

“Seorang hamba tidak akan pernah lebih dekat kepada Allah Swt. Kecuali ketika ia tengah bersujud.” (HR Muslim).

Saad bin Jubair pernah berkata,

“Tiada sesuatu pun di dunia ini yang kumintai pertolongan kecuali lewat sujud dalam shalat.”

Sedang ‘Uqbah bin Muslim berkata,

“Tiada sesuatu pada manusia yang lebih disukai Allah selain memperlama perjumpaan dengan-Nya. Dan tiada saat dalam kehidupan manusia yang teramat dekat dengan-Nya, kecuali ketika ia tersungkur bersujud kepada-Nya.”

Abu Hurairah ra. pernah berkata,

“Saat paling dekatnya seorang hamba kepada-Nya ialah ketika ia sedang bersujud, dan kemudian memperbanyak doa.”

Semua kata-kata tadi mengisyaratkan, bahwa untuk senantiasa ada dalam posisi terdekat dengan Allah bukanlah semata-mata kita harus sujud setiap saat. Hal ini, dalam dimensi yang lebih dalam, juga berarti seorang hamba akan senantiasa dalam keadaan yang terdekat dengan Allah ketika Qalbunya telah hidup dan suci, yang mampu menempatkan dirinya untuk berada dalam posisi diatas rasionya.

Demikianlah uraian yang sangat singkat dalam memaparkan aspek batiniyah dalam shalat, hanya sebagai contoh bahwa Allah sang pemilik segala ilmu, menempatkan semua isyarat mengenai diri-Nya, maupun petunjuk bagi hamba-Nya, di dalam segala hal di alam ini. Kompleksitas diri-Nya yang Maha Tinggi membuatnya mampu membuat segala hal mengisyaratkan dan menyimpan ilmu bagi manusia, dalam dimensi lahiriyah maupun batiniyahnya. Tentu, masih banyak lagi hikmah lain dari ibadah tersebut yang Allah ajarkan kepada setiap hamba-Nya yang yang khusus, yang Dia sucikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.



sumber:dealova79.multiply.com/journal/item/545/_Dimensi_Batin_Ibadah_Shalat

Sholat

Bersiap berdiri dengan badan posisi tegap menghadap kiblat termasuk jari2 kaki semua menghadap kiblat ukurannya pada tepi luar kaki lurus dan sejajar tepi bahu sehingga merenggakan lebar kedua kaki sesuai dengan porsi lebar kedua bahu. Tatapan mata selalu kearah tempat sujud dan tidak memejamkan mata selama sholat dalam posisi apapun juga. Semua posisi tersebut juga harus dipertahankan pada saat sudah bangkit dari ruku maupun sujud.

Takbir Takbir mengangkat kedua tangan dengan jari2 rapat sejajar telinga maupun bahu pada situasi sholat sendiri atau cukup sampai di depan dada pada saat bermakmum. Takbir pada rakaat pertama disebut takbiratul ihram. Sedangkan takbir berikutnya dilakukan juga setelah bangun ruku dan setelah dari tasyahud awal disebut takbir intiqal.
Qiyyam Qiyyam lanjutan takbir dengan meletakan tangan kiri di antara pusar dengan dada dan tangan kanan memegang pangkal tangan kiri pada posisi atas atau bersedekap. Qiyyam ini menjadi kesatuan dengan takbir.
Rukuk Ruku’ dengan kedua kaki tetap tegak lurus sambil membungkukan badan kedepan sampai sisi belakang kepala rata dengan punggung sehingga badan dan kaki hampir 90 derajat dengan telapak tangan kanan menggenggam kaki kiri dan tangan kiri menggenggam kaki kiri pada posisi dimana tangan2 lurus juga.
I’tidal mengangkat punggung serta tangan dengan gerakan seperti takbir.
sujud1.jpg Sujud dengan meletakan kedua tangan ke lantai kemudian menyusur ke arah depan sambil dengkul menyentuh lantai hingga posisi paha 90 derajat dengan lantai lalu letakan kening dan hidung ke lantai dan siku tetap berada di atas lantai, kemudian rapatkan kedua telapak kaki.
sujud-22.jpg
sujud-31.jpg Itirasy duduk antara dua sujud dengan melipat kaki kiri kearah kaki kanan dan jari2 kaki kanan ditekuk sementara telapak kanan menghadap kebelakang sehingga dilihat dari segala sisi 90 derajat dengan lantai. Telapak tangan berada di masing2 ujung dengkul.
telunjuk1.jpg Tasyahud Awal dengan duduk seperti itirasy sambil menggerakan telunjuk kanan sebagai isyarat sementara jari2 lain tetap pada posisinya, sedangan Tasyahud Akhir sama halnya dengan duduk itirasy tetapi kaki kiri tidak diduduki melainkan di arahkan lebih ke kaki kanan.

HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIAN PADA BACAAN SHOLAT

Dzikir2 ataupun ayat-ayat harus diucapkan dengan cukup didengar telinga sendiri. Terkecuali sebagai imam ada yang syaratkan untuk di keraskan maka apabila bacaan tsb dikeraskan oleh imam hendaklah makmum menyimaknya. Diucapkan satu napas per satu ayatnya, tidak terburu-buru, dan benar-benar memaknainya.

Membaca Surat dalam sholat wajib sebaiknya membaca surat secara lengkap kecuali pada sholat sunnah tidak mengapa dari beberapa ayat pada surat yang panjang dengan tidak mengurangi makna kumpulan ayat2 tsb.

Ruku membaca dzikir2 yang disyariatkan sebanyak tiga kali ataupun lebih hingga dua belas kali.

I’tidal membaca dzikir berbarengan dengan gerakan I’tidal.

Sujud membaca dzikir2 yang disyariatkan sebanyak tiga kali ataupun lebih hingga dua belas kali lanjutkanlah berdo’a sesuai sunnah selama sujud atau cukup dalam hati jika menggunakan bahasa sendiri. Waktu sujud merupakan salah satu waktu dimudahkannya terkabul do’a.

Mengucapkan Salam berbarengan dengan gerakan salam.

Mengucapkan Amin berbarengan dengan imam dan makmum dengan dua harkat ‘A’ dan enam harkat ‘min‘ sehingga memiliki arti “Kabulkanlah”.

Semoga bermanfaat.


sumber:mydin.wordpress.com/islam/sholat/

Kamis, 01 April 2010

Rahasia Memperpanjang Umur

Lima Halaman Pertama Buku

Rahasia Memperpanjang Umur

Kata Pengantar

Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk terbaik; menundukkan seisi bumi untuknya dan memberinya tujuan yang mulia yaitu beribadah secara tulus kepada-Nya; menjauh sejauh-jauhnya dari hawa nafsu dan mengikuti setan, sebagaimana firman-Nya: “dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku”.

Oleh karena tujuan mulia ini, manusia seharusnya menggunakan hidupnya dan memanfaatkan waktunya yang terbatas dengan amal saleh untuk memberatkan timbangan kebaikannya dan meraih tempat yang tinggi di surga. Seorang mu’min saleh yang menjadikan Islam sebagai jalan hidup dan agama; berperilaku dengan akhlak dan etikanya; dan menerapkan syariat-syariatnya, sangat ingin menggunakan waktunya untuk taat kepada Allah, beramal baik dan tidak menyia-nyiakan waktu, karena kalau ia menyia-nyiakan waktunya, ia akan menyesal pada hari kiamat nanti.

Pada hari itu, orang yang berdosa dan lalai untuk taat dan beribadah kepada Allah akan berkata: “andai saja dulu saya memanfaatkan hidup sebelum berhadapan dengan hari yang maha berat ini”.

Seorang muslim menginginkan hidupnya bukan sekedar untuk hidup itu sendiri dan menikmati kelezatannya, namun untuk meraih sebanyak mungkin kebaikan. Jika ia melihat kebaikan bertambah dalam hidupnya, ia berdoa semoga Allah memanjangkan umurnya.

Namun jika ia melihat bahwa hidupnya hanya akan mengantarkannya pada bencana dan perbuatan jelek, ia akan memohon kepada Allah untuk mencabut nyawanya agar ia selamat. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muadz Bin Jabal RA (Radliallahu Anhu), Rasulullah SAW berdoa: “ya Allah, Aku memohon kepada-Mu agar Aku berbuat baik, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin; Aku memohon agar Engaku mengampuniku dan mengasihiku. Jika Engkau ingin memberi bencana pada satu kaum, cabutlah nyawaku agar agu tidak tertimpa bencana tersebut. Aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencitai-Mu, setiap amal yang mendekatkanku kepada cinta-Mu”. Rasulullah SAW juga bersabda: “doa itu benar maka hapal dan pelajarilah”.

Tujuan kita dalam hidup bukan seperti tujuan orang-orang kafir, namun lebih mulia dan agung; yaitu untuk beribadah kepada Allah dan mengumpulkan kebaikan sebanyak mungkin sebelum Allah mencabut nyawa kita.

Penulis,

Maryam Abdullah ar-Rukn


Bab I

Catatan Awal

Seorang muslim tahu bahwa umurnya dibatasi tahun, hari atau bahkan detik. Ia tidak dapat menambahnya sedikitpun.

Betapapun besar keinginan seorang muslim untuk meraih kebaikan, umurnya tetap saja singkat jika dibandingkan dengan umur umat sebelumnya, seperti hadits Abu Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Umur umatku berkisar dari 60 sampai 70 tahun. Sedikit saja dari mereka yang melampauinya”.

Jika kita tahu bahwa waktu produktif seseorang tidak lebih dari 20 tahun dari total usianya, sebab jika umurnya adalah 60 tahun, sepertiganya dihabiskan untuk tidur –dengan asumsi 8 jam waktu untuk tidur per hari atau sepertiganya—; 15 tahun dihabiskan untuk masa kanak-kanak, remaja dan bermain-main; 2 tahun habis untuk makan dan buang hajat, maka yang tersisa adalah 1/3 umurnya (sekitar 23 tahun) yang harus ia maksimalkan untuk memproduksi kebaikan sebanyak mungkin. Seseorang hanya akan menyesal, manakala ia lalai memanfaatkan 1/3 masa produktif ini. Di sinilah masalahnya: ketika umur terbatas dan pendek, maka harus ada cara untuk memperpanjang umur.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, beliau berkata: Rasulullah SAW memberi nasehat kepada seorang sahabat: “gunakan yang lima sebelum datang yang lima: mudamu sebelum tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum fakirmu, sempatmu sebelum sempitmu, hidupmu sebelum matimu”.1

Masa Produktif Orang Hidup 60 Tahun

Umur Kegiatan yang Mengurangi Masa Produktif Kalkulasi
60 tahun 8 jam tidur per hari, sama dengan 20 tahun masa tidur 60 – 20 = 40 tahun
40 tahun Orang menghabiskan masa kecil, remaja dan main-main selama 15 tahun 40 – 15 = 25 tahun
25 tahun Orang ini memerlukan setidaknya 2 jam untuk makan 3 kali sehari dan buang hajat. Ini sama dengan 2 tahun 25 – 2 = 23 tahun

Dari kalkulasi ini, yang tersisa dari umur manusia yang hidup 60 tahun adalah 23 tahun, yaitu hampir separuh dari masa hidupnya.

Dari sini, kita mengingatkan umat Islam agar sungguh-sungguh beramal saleh untuk memberatkan timbangan kebaikannya di hari kiamat. Sehingga kita berhasil mewujudkan tujuan eksistensi kita yaitu untuk beribadah kepada Allah yang tiada sekutu bagi-Nya.


Konsep Memperpanjang Umur

Memperpanjang umur disebutkan di hadits Anas Bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW bersabda: “barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan diperpanjang umurnya (wa yunsa’a lahu fi atsarihi), maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi”.2

Para ulama berbeda pendapat tentang makna memperpanjang umur di hadits ini. Barangkali yang paling menonjol menjelaskan pendapat-pendapat mereka ini adalah: Imam Nawawi, Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah, al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani RA.

Imam Nawawi RA berkata: kata “al-atsar” maknanya adalah ajal karena ia datang setelah hidup. Sementara meluaskan rezeki berarti luas dan banyaknya rezeki atau –ada yang mengatakan—berkahnya rezeki. Tentang penundaan ajal, ada pertanyaan yang sudah diketahui luas yaitu bahwa ajal dan rezeki telah ditetapkan, tidak akan bertambah atau berkurang, sesuai dengan firman Allah SWT: “maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.

Banyak jawaban ulama tentang masalah ini:

Pertama: tambahan usia yang dimaksud adalah dengan umur yang berkah, mendapat petunjuk untuk berbuat taat, mengisi waktu dengan perbuatan yang memberi manfaat di akhirat dan menjaganya agar tidak terbuang percuma.

Kedua: bahwa bagi malaikat, di al-lauh al-mahfudz dan semacamnya misalnya tampak bahwa umurnya 60 tahun, sampai ia menyambung silaturrahmi-nya. Namun ketika ia menyambung silaturrahmi-nya, umurnya ditambah 40 tahun. Allah memang telah mengetahui bahwa hal tersebut akan ia lakukan. Ini sesuai dengan firman-Nya: “Allah menghapu apa saja yang dikehendaki-Nya dan menetapkannya”. Maka ketika dikaitkan dengan pengetahuan dan ketentuan Allah, tidak ada tambahan, bahkan mustahil ada tambahan.

Ketiga: bahwa yang dimaksud adalah kenangan baik yang terus ada untuknya, seolah-olah ia tidak mati.

Imam Ibnu Taimiyah berkata: firman Allah SWT: وَمَا يُعَمَّرُ مِنْ مُعَمَّرٍ وَلَا يُنْقَصُ مِنْ عُمُرِهِ artinya: seseorang tidak ditambah atau dikurangi umurnya. Ada dua maksud memperpanjang dan memperpendek umur di sini: pertama: bahwa orang ini berumur panjang dan orang itu berumur pendek, sehingga yang umurnya yang pendek adalah kurang jika dibandingkan dengan orang lain, sebagaimana yang berumur panjang adalah lebih jika dibandingkan dengan orang lain. (kedua) boleh jadi yang dimaksud dengan kurang adalah : berkurang dari umur yang telah ditetapkan, sebagaimana yang dimaksud dengan lebih adalah: bertambah dari usia yang telah ditetapkan. Di kitab as-Shahihain dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: “barangsiapa yang mau dilapangkan rezekinya dan ditunda ajalnya, maka hendaklah ia menyambung silaturrahmi”. Ada yang mengatakan: bahwa yang dimaksud adalah umur yang berkah; yaitu seseorang dapat beramal dalam waktu singkat yang orang lain hanya mampu lakukan dalam waktu lama. Mereka mengatakan: karena rezeki dan ajal sudah ditetapkan dan ditentukan, maka: (yang dimaksud) adalah berkah. Namun jawaban yang tepat adalah: bahwa Allah SWT telah menentukan di buku catatan malaikat ajal seseorang. Jika orang itu menyambung silaturrahmi, maka umurnya bertambah dari yang sudah ditentukan tersebut; dan jika ia melakukan sesuatu yang berakibat berkurangnya usia, maka usia yang sudah ditentukan tersebut juga berkurang. Allah mengetahui apa yang telah ada dan apa yang akan ada; apa yang tidak ada dan bagaimana kalau ia ada. Dia mengetahui apa yang telah ditentukan-Nya untuk orang tersebut dan apa yang akan ditambahkan-Nya untuk orang itu kemudian. Malaikat tidak mengetahui kecuali apa yang Allah beritahukan kepada mereka. Sementara Allah mengetahui segala sesuatu sebelum dan setelah ada. Oleh karena itu, para ulama mengatakan bahwa menghapuskan dan menetapkan hanya terjadi di buku catatan malaikat. Sedangkan ilmu Allah tidak berubah; apa yang belum ada dalam ilmu-Nya, maka ia tidak muncul, sehingga tidak ada penghapusan dan penetapan terhadapnya.3

Tentang tema yang lain, beliau berkata: “ajal itu ada dua: ajal mutlak yang diketahui oleh Allah dan ajal dengan catatan. Dari sini, menjadi jelaslah apa yang dimaksud oleh sabda Nabi SAW: “barangsiapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan ditunda ajalnya maka hendaklah dia menyambung silaturrahminya”. Allah memerintahkan malaikat untuk menuliskan ajal untuk orang itu dan befirman: “kalau dia menyambung silaturrahminya maka tambahlah untuknya sekian sekian”. Malaikat tidak mengetahui, apakah betul-betul akan bertambah atau tidak. Namun Allah mengetahui apa yang akan terjadi, dan jika ajal tersebut tiba, maka ia tidak akan datang lebih awal atau terlambat”.4

Ibnu Hajar berkata: “Ibnu at-Tiin berkata: ‘makna eksplisit dari hadits ini bertentangan dengan firman Allah SWT : ((maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya)) (Q.S. al-A’raf, 34). Ada dua cara untuk mengkompromikannya:

Pertama: bahwa tambahan umur adalah kiasan untuk makna berkahnya umur karena ia mendapat petunjuk untuk berbuat taat, mengisi waktu dengan amal yang berguna untuknya di akhirat dan menjaganya agar tidak terbuang percuma. Intinya: menyambung hubungan kekeluargaan (silaturrahmi) menjadi sebab mendapat petunjuk untuk berbuat taat dan menghindar dari maksiat sehingga nama baiknya tetap ada setelah ia meninggal seolah-olah ia tidak meninggal dunia. Termasuk dalam kategori petunjuk ini adalah ilmu yang bermanfaat setelah ia meninggal, sedekah yang mengalir pahalanya untuknya dan keturunan saleh yang ditinggalkannya.

Kedua: bahwa tambahan itu memang benar-benar terjadi dalam kaitannya dengan pengetahuan malaikat yang diserahi tugas mencatat umur. Sedangkan makna yang ditunjukkan ayat tadi adalah dalam kaitannya dengan ilmu Allah. Seolah-olah dikatakan kepada malaikat: misalnya, umur Si Fulan adalan 100 tahun jika dia menyambung silaturrahmi dan 60 tahun jika ia memutusnya. Padahal dalam ilmu Allah, telah diketahui apakah ia akan menyambung atau memutusnya. Sehingga dalam pengetahuan Allah, umur tidak berkurang atau bertambah. Hanya dalam pengetahuan malaikat, ia bisa bertambah atau berkurang. Ini ditunjukkan oleh firman Allah SWT: يَمْحُ اللهُ مَا يَشَاءُ وَيُثْبِتْ وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (Q.S. ar-Ra’d, 39). Penghapusan dan penetapan adalah berkaitan dengan pengetahuan malaikat, sedangkan dalam pengetahuan Allah yang berada di Ummul-Kitab (Lauh Mahfuzh), maka sama sekali tidak ada penghapusan. Inilah yang disebut dengan istilah qadla’ mubram, sedangkan yang pertama tadi disebut qadla’ mu’allaq.5

Dari beberapa pendapat tadi, jelas bahwa ada tiga pendapat ulama tentang makna memperpanjang umur ini:

Pendapat pertama: adalah berkah.

Pendapat kedua: betul-betul memperpanjang umur.

Pendapat ketiga: sebutan baik setelah meninggal dunia.

Untuk mengamalkan konsep memperpanjang umur ini, seseorang membutuhkan kesehatan raga dan jiwa, karena tanpa kesehatan semacam ini, hidup menjadi kubangan penderitaan dan akibatnya akan mengecewakan. Dalam kondisi semacam ini, seseorang tidak akan bisa beramal dan fokus untuk memperpanjang umurnya dengan cara yang benar; atau bahkan ia mengharap kematian atau bunuh diri untuk membebaskan diri penyakit-penyakit raga atau jiwanya.

Oleh karena itu, konsep memperpanjang umur dalam al-Qur’an mencakup dimensi-dimensi keagamaan, kejiwaan dan kesehatan yang masing-masing saling membutuhkan satu sama lain.


sumber:74.125.153.132/search?q=cache:uw1JhdVt9NQJ:xa.yimg.com/kq/groups/6130974/1077888730/name/rahasia%2Bmemperpanjang%2Bumur.doc+rahasia+bentuk+manusia&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a

ff

CO.CC:Free Domain
Program Affiliate Indowebmaker

dakwa ©Template Blogger Green by Dicas Blogger.

TOPO